|
|
Beranda Masalah Maritim
Masalah Maritim
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 28 January 2009 |
|
Pemilihan Umum tinggal sesaat lagi. Diawali oleh pemilihan anggota dewan yang terhormat dan diahiri dengan pemilihan Presiden. Semua proses cukup melelahkan (bagi tim sukses), namun juga menjanjikan hasil yang menggiurkan apabila "berhasil". Mesin-mesin partai politik berlomba untuk dapat merebut hati rakyat dengan beragam cara. Beragam media digunakan untuk itu, baik lewat iklan-iklan di TV, media Cetak, Baliho, spanduk, bahkan ucapan belasungkawa pun kadang dimanfaatkan. Visi dan misi para partai politik pun sudah didengungkan. Ada partai yang menempatkan SEMBAKO Murah sebagai "obralan" politiknya, ada juga yang melebig-lebihkan kemajuan Negara saat kepemiimpinan Presiden yang diusung partai tertentu sebagai bahan "Jualannya". Bahkan banyak yang sekadar beretorika, seperti laiknya seorang dosen yang berteori didepan mahasiswanya. Semuanya sebagai bentuk tawar-menawar partai dengan rakyat. Ditengah gejala deflasi akibat krisis global,sebaiknya program yang ditawarkan adalah menyangkut sektor riil yang sesuai dengan potensi Bangsa kita sendiri. Potensi utama bangsa kita adalah potensi geografis itu sendiri yang sungguh besarnya. Anak-anak kita sejak dini (SD) telah berulangkali ditanamkan konsep Letak strategis bangsa Indonesia diantara Dua Samudera dan Dua Benua. Namun realita dimata Politikus dimana? Para politikus sibuk dengan program2 untuk memanjakan rakyat..! Bukan untuk Menggerakkan rakyat..! Dengan jumlah penduduk yang sedemikian besar dan dengan potensi yang Alam yang sedemikian dahsyat, mengapa negeri ini begitu lemah apabila dilanda suatu krisis..? Itulah yang harus dipikirkan..!!! Dengan potensi laut yang teramat luas, potensi garis pantai yang teramat panjang, dan dengan posisi letak geografis yang teramat strategis ini tidak cukupkah untuk dijadikan bekal? Para politikus sebaiknya berpikiran secara global jangan sektoral. Aspek kedaerahan yang berbasis pulau sebaiknya dihilangkan dan diganti dengan aspek Nusantara yang berbasis kelautan. Buatlah jualan program yang menekankan akan potensi tersebut. Program budaya dapat dilakukan dengan lebih menekankan akan peningkatan budaya nusantara. Program perdagangan yang berbasis antar pulau harus jadi prioritas. Program Pariwisata bahari (pantai, surfing, diving, dsb) harus sering dipromosikan dan dibuat paket-paket wisata yang menarik. Rancangan Tataruang Nasional harus berbasis gugusan kepulauan dengan unit DAS (Daerah Aliran Sungai) untuk rancangan Tataruang yang lebih kecil. Pembangunan infrasruktur Kelautan (Pelabuhan ikan/transportasi) harus ditambahakan dengan memperhatikan konfigurasi akan lekuk garis pantainya. Pelabuhan di Jepang yang konon rata-rata ada setiap 11 km, Indonesia sendiri berapa? Program pendidikan kejuruan Kelautan setingkat SMK sebaiknya diadakan untuk wilayah Kabupaten yang berbatasan dengan laut..!! Armada Angkatan laut harus lebih diperkuat, untuk mencegah ilegal fishing yang dilakukan oleh negara tetangga. Coba kita logikakan, misal 1 kapal asing mampu menangkap ikan diperairan kita seberat 5 ton, dimana harga ikan tiap kilogram misalkan Rp.15rb/kg maka dalam 1 kapal dapat pemasukan sekitar 75.000 000 jt/hari. Jangan sampai armada AL kita kalah canggih dan kalah cepat dengan Kapal Penangkap ikan.... Hidup Maritim Indonesia.!! |
|
Last Updated ( Monday, 07 September 2009 )
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 26 November 2008 |
|
Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara maritim. Namun pemahaman akan maritim di Indonesia sendiri masih sangat kurang begitu dipahami oleh warga negara.. Padahal, kita mengklaim negara maritim terbesar didunia (bahkan menyamakan dengan record saat sriwijaya) namun untuk kesehariannya apakah masyarakat mencerminkan akan negara maritim..? yang sadar akan posisi dan strategisnya negara Indonesia ini apabila memahaminya.. Ingatlah kebanyakan negara maju dan yang benar-benar ingin maju adalah negara yang kuat akan kemaritimannya (Jepang, China, Amerika, Jerman, Inggris, dll). Rakyat janganlah dipaksakan untuk berpikir dan hidup ke darat (pertanian) menjadi lebih baik (seperti iklan Prabowo). Padahal lahan pertanian di Indonesia begitu sangat bermasalah. Seperti Lingkungan (akibat pupuk kimia/alih fungsi lahan), unsur hara, produksi yang semakinlama semakin sedikit. Sangatlah susah untuk mengandalkannya. Cobalah paksakan kepada rakyat akan kesadaran negara Maritim. Dengan potensi lautnya, tambangnya, dan pertahanannya dapat untuk mencukupi kebutuhan kta semua. Berikanlah artinya pendidikan laut, pentingnya konsumsi ikan untuk kecerdasan, Promosi Wisata Bahari nan Indah, dsb. Hidup Maritim Indonesia..!!! |
|
Last Updated ( Tuesday, 21 July 2009 )
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 26 November 2008 |
|
Penentuan perbatasan antara Indonesia di daerah yang overlap, baik yang menyangkut laut wilayah, zona tambahan, ZEE, maupun landas kontinen dengan negara-negara tetangga, perlu dirundingkan dan diselesaikan melalui perundingan dan perjanjian. Berikut permasalahan-permasalahan maritim yang ada di Indonesia (Hasjim Jalal, 2005) : a. Permasalahan laut wilayah, yaitu didaerah-daerah perbatasan yang lebar lautnya kurang dari 24 mil. Masalah ini terutama menyangkut perbatasan Indonesia-Malaysia dan Indonesia-Singapura yang belum padu. Apalagi ditambah dengan ekspor pasir Indonesia ke Singapura yang dapat berakibat perluasan klaim Singapura atas wilayah lautnya. b. ZEE, Indonesia baru mencapai perundingan dengan Australia namun belum diratifikasi sehingga belum dapat disahkan, sedangkan untuk batas-batas dengan negara lain seperti India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Palau, dan PNG belum dirundingkan. c. Batas landas kontinen, sebagian telah terselesaikan yaitu batas antara Aceh-Andaman (India), Indonesia-Thailand (di utara Selat Malaka), Indonesia-Malaysia (selat malaka, dan Laut China Selatan), Indoensia-PNG, Indonesia-Australia. Namun untuk perbatasan Indonesia-Filipina-Malaysia di Laut Sulawesi belum dapat terselesaikan. d. Kepemilikan pulau perbatasan juga terdapat beberapa masalah. Setelah Sipadan-Ligitan yang lepas, kawasan Kep.Mianggas di Sulawesi juga terancam lepas karena klaim laut oleh Filipina. Belajar dari pengalaman Sipadan-Ligitan, aksi yang nyata untuk pembangunan wilayah perbatasan lebih dibutuhkan dan lebih jelas pembuktiannya daripada sekadar pengesahan Peraturan Pemerintah. e. Keadaan ekonomi negara dan rakyat yang masih sulit mempengaruhi kemampuan pengamanan perbatasan. f. Alat-alat negara pembela keamanan dan ketertiban sangat banyak dihujat karena masalah pelanggaran HAM dan citra Lembaga yang korup. |
|
|
|
|