| Nelayan oh Nelayan |
| Written by Administrator | |
| Friday, 04 September 2009 | |
|
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Dunia. Negeri ini memiliki bentang Laut wilayah 70% dibanding dengan luas daratan yg hanya 30%. Sejatinya, Bangsa indonesia adalah masyarakat bahari. Sebelum penjajahan belanda, Indonesia terkotak-kotak kedalam kerajaan-kerajaan kecil. Di antara sekian banyak kerajaan kecil itu, terdapat kerajaan besar berbasis maritim di Tanah air yang mampu untuk menyatukannya yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan ini menurut berbagai pakar sejarah cukup disegani di kawasan Asia Tenggara... Dimanakah sisa-sisa peninggalan kerajaan maritim di Indonesia....? Sisa peninggalan apa yang patut untuk dibanggakan..? Apakah dengan catatan sejarah tersebut kita sudah cukup berbangga diri...? Namun dengan flashback sejarah bangsa, terdapat satu pesan Nenek moyang Kita terhadap anak cucunya yaitu: kalo bangsa ini menginginkan maju dan disegani maka KUASAILAH LAUT DAN BUDAYAKAN MARITIM NYA..! Sudah cukupkah modal kita untuk menguasai laut sendiri..? Sebelum beranjak kesana, marilah kita analisa salah satu elemen bangsa yang dengan setia memanfaatkan dan mengolah laut kita, yaitu nelayan. Bagaimanakah nasib nelayan kita...? Apakah sudah terpikirkan oleh para pemimpin bangsa ini...? ataukah para pemimpin kita tunduk-tertindas pada kekuatan pemodal dan sangat tergantung pada utang luar negeri dan dana-dana asing yang makin menidas nelayan...? Nelayan masih diidentikan dengan kawasan kumuh, terpinggirkan, dan bodoh. Akankah tidak ada pengharapan kepada mereka...? Sudahkah kita merasakan kesulitan-kesulitan mereka.? Manakala cuaca lagi tidak bersahabat sampai berhari-hari, nelayan tidak melaut. Begitu pula ketika harga solar yang mahal menyebabkan mereka kesulitan untuk menentukan waktu penangkapan ikan di Laut. Selain itu, keterbatasan kapal nelayan yang seadanya menyebabkan mereka tidak bisa berlayar lebih jauh. Nelayan kita dengan modal terbatas hanya dibolehkan menguasai tidak lebih dari 12 mil laut. Sedangkan para kapal ikan asing/kapal milik orang asing dengan bebas menangkap ikan di lautan lepas. Bahkan mereka melakukannya dengan kecenderungan Ilegal Fishing. Kredit-kredit mikro usaha rakyat yang digadang-gadang oleh pemerintah hanya mampu untuk menyambung hidup para nelayan dan tidak untuk meningkatkan taraf hidup nelayan. Kerusakan lingkungan laut saat ini seakan-akan ditimpakan kepada para nelayan. Sudahkah nelayan dibimbing dan dilibatkan dalam menjaga wilayah-wilayah laut kita. Ataukah mereka dianggap orang lain dalam pengelolaan taman nasional laut yang berada di wilayahnya sendiri..? Sudahkah mereka diajak untuk aktif menjaga dan mengawasi lingkungannya...? Sudah berfungsikah organisasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI)? Nelayan oh nelayan.. Nelayan kita berawal dari miskin dan tetap makin miskin.... By : Ikhsan Prabowo |
|
| Last Updated ( Monday, 07 September 2009 ) |